Linkin Park Has Path, Our Path!


It’s been a year, more than one year. This sad news delivers me to write my blog post again.
Chester Bennington is passed away. Yea, definitely internet brought it to me. But why I feel like, all my world is falling down. Down to the bottom of my past, my highschool hell stories, my bestfriend and my first love. 18 hours after the news spread. Here, me one of your people, no, you’re and your guys, Chester Bennington, Michael Kenji Shinoda, Rob Bourdon, Joseph Hahn, and brad Delson, this message is for you guys. Please holding on and thank you always with my regardfulness.
Mental illness? That’s not a surprise for become a centre attention from another centre attention people, or want to be centre attention people, that compete to anyone lives by entertainment world with huge famousity and others problem surrounded, I hate to read comments by people who can’t put any respect to other side’s condition. I decide to not browse all post about him, I just sad. I just want to know the cronology,  that put off my phone. I don’t need their fucking opinions on you. It’s just me and you guys right now.
To pace away this shockness, I play an old movie. Disconnected? Ah yea, that’s so me. That’s why you guys help me to keeping my path. The very hot day after school, your hybrid theory and Meteora. Do you guys know how I find you? One gloomy day I regret myself to choose agree enter the school I ain’t want, I just do it to my Dad. I’m so regretting my school live and I hate for become the target of bullying. Yes, I’ve been bullied by the kids in my school because ‘I’m different’. That day, the pirated illegally compact disk seller at the street near my school. That one song  hinted all over radio, when I still don’t understand about how easily download it songs later. I ‘m looking for your cassette, I save my money and we run over to cassette stores, me and my friend, we escape school, we escape extended classes. To buy cassette, the next day I play your cassette every day until about countless turn to flip-flop the cassette side.  Your scream and that blah-blah-blah rapping (my mom said) is noisy all over the house, remembering I’m the only daughter in the house, it’s categorized as abnormal. And yea indeed, I have some family issues too. I can’t deny myself that I was a teenager who needs more attention from family and running for a direction. Communication never be my right to speak out inside the house, where my thinking considered as not important. Until now.  There, I met also my bestfriend and my first love. There I start to have something finally I can dream on. I want to be focus pass my highschool life and made it extraordinary. I, this so-called delinquent student, who in fact being bullied and almost alone, slow at study and nervous to talk to my crush; have the boldness to get better.
Day by day, after that and also the college life. You start to change your genre, I don’t care. I’m willing to stay with you guys, though people say it’s stupid and you guys are confused and lose identity. It’s not. Music made by experience, all your lyric, the melody, rhythm,
comes as gift. You made it because it’s your message, your story. We choose you because we adore you. We are at the same path, you made us a clear line how we feel about our live. If you change your music and we stay, it means we’re still at the same path. Behold, please behold! Do it like you guys first met, like you guys first talk and decide to make what song it should be, into your album. I never met you directly, I never watch your concert, not a single one. My family is poor. Me too, broken.  Our connection is just songs. All people who choose you, all stay. Don’t regret life. You guys are bigger, the bigger leads.

Adore you always.

Chester Bennington.

Laut Ujung Senja: Bab III (Berlian Pudar)

Kapal bertipe mine sweeper ini sudah menjadi rumah terapungku selama 6 bulan terakhir. Sebelumnya aku ditempatkan di kapal perang berjenis LPD (Landing platform Dock) dengan kode seri kapal 590. Kapal ini sering digunakan oleh Bapak Presiden Susilo bambang Yudhoyono ketika akan melakukan perjalanan lewat laut. KRI 590 memiliki banyak ruang kamar dan sistem permesinan yang lebih rumit juga kompleks. KRI Makassar adalah tipe kapal yang memiliki fungsi sebagai pengangkut armada dan kapal inilah jenis pertama yang di aktifkan sebagai kapal tugas dengan sistem docking yang dapat menyimpan 2 kapal kecil sejenis patroli pendukung di lambung dasar atau tank deck.
Sistem mekanik yang lebih rumit juga ada di tank deck, saat pertama naik kapal itu aku mencoba masuk ke dalamnya. Bertanya-tanya pada operator mesin mengenai tugas-tugas yang mereka lakukan dan bagaimana cara kerja mesin kapal militer yang besar seperti itu. Ada sebuah ruang kendali mesin yang mirip ruang operator pegawai PLN.
Didalamnya terdapat panel-panel yang dikendalikan dengan sistem komputerisasi yang terhubung pada satu layar LCD besar ditengah kumpulan panel-panel tersebut. Ketika Pak Bondan menjelaskan, meskipun tak memahami sepenuhnya karena permesinan bukan jurusanku sewaktu kuliah tapi setidaknya aku mengerti sedikit-sedikit.
Pasokan air dan listrik di didstribusikan ke seluruh bagian Kapal KRI Makassar 590 oleh tenaga solar sebagai bahan bakar. Di belakang meja kontrol ada sebuah peta jalur yang mendeskripsikan kemana saja aliran listrik ditujukan pada setiap bagian kapal.
Sementara didalam ruang kendali itu dingin dan ber-AC diluarnya hanya ada jembatan dari besi yang selebar bokong ibukku dikelilingi oleh mesin-mesin besar yang berderum-derum dengan suara kuat bahkan ketika memekik diruangan itupun tak ada yang bisa mendengar suaramu. Dari semua penjelasan rumit Pak Bondan, yang kutahu jangan coba-coba berbuat sesuatu yang mengganggu jalur pembuangan limbah air di kapal karena itu akan menyusahkan orang bagian permesinan yang harus mematikan seluruh mesin yang sedang bekerja di kapal, begitu pesan mereka padaku.
Setelah hampir setahun hidup nyaman di atas kapal besar itu aku di pindah tugaskan ke kapal lainnya. Masih Kapal Militer atau KRI yang bertugas mengamankan perairan. Tapi kapal selanjutnya ini tidak sama dengan KRI Makassar 590.  KRI Pulau Raas dengan nomor seri 722 memiliki tipe, bentuk, seri dan fungsi yang tidak sama dengan KRI 590.
Berbeda dengan kapal KRI Makassar 590 yang lebih luas berukuran tinggi 56 meter dengan deck berjulah 10 tingkat serta memiliki sebuah heli deck dan dapat mengangkut 2 buah LCVP. KRI Pulau Raas 722, kapalku berukuran jauh lebih kecil dengan luas lebih dari 56 x 7 x 2 meter. KRI Pulau Raas memiliki seri 722 yang artinya kapal yang berfungsi sebagai kapal persenjataan.
Meskipun lebih kecil, tapi tugas si cabe rawit ini juga tidak kalah mulia. Memastikan perairan Indonesia bebas dari ranjau laut yang dapat membahayakan kapal-kapal yang lalu lalang di perairan Indonesia dan mengintai apabila ada pesawat musuh mendekat dan berusaha menyerang. Hanya 30 orang beruntung dari seluruh penduduk Indonesia yang menaiki kapal luar biasa ini. Dan kapal-kapal sejenisnya.
Sayangnya kapal hebat ini bukan buatan baru dari pabrik alias secondhand yang dibeli Negara Indonesia pada tahun 1992 setelah berhenti di operasikan oleh Jerman Timur sejak Tahun 1973. Meskipun lawas, tak bisa dibohongi bahwa kekuatannya masih patut di acungi jempol. Meriam ganda yang berjumlah 3 buah masih dapat dioperasikan dengan baik. Mesin kapal yang menghasilkan 8,260  bhp kekuatan mampu mengarungi samudera hingga sejauh 28 batu nautika. Terkadang benar kata pepatah, mungkin sampah orang lain adalah harta karun bagi yang lainnya. Inilah harta negara yang patut kita jaga dengan sebaik-baiknya.

Laut Ujung Senja: Bab II (Berlian Pudar)

Negeri-ku, yang seperti nyanyian teduh ibu pertiwi. Tanah airku amatlah subur yang kucinta sepanjang masa. Yang seperti lagu buaian Koes plus, bukan lautan bukan kolam susu kail dan jala ikut menghidupimu tiada ombak tiada badai kau temui ikan dan udang menghampiri dirimu. Bermanja-manja dan terlena dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, tapi bingung bagaimana cara mengolahnya.
Kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengurusi masalah pemberdayaan hasil-hasil kelautan.
Lihatlah negara luar yang bahkan tak memiliki laut seluas Indonesia. Belanda bahkan mengeringkan lautan untuk di jadikan daratan, tapi mereka menguasai hampir 5% hasil tangkapan laut dunia. Kapal-kapal canggih penangkap ikan miliki nelayan Jepang bahkan sampai ke Tanjung Benoa, Bali. Amerika menempuh badai di lautan samudera psifik yang maha luas untuk menangkap ikan dengan sistem penangkapan bersiklus yang disesuaikan dengan angin dan musim tangkapan.
Nelayan Indonesia hanya menggunakan kapal kayu berukuran 4-5 meter dengan mesih motor 4 tak hanya dapat berlayar sejauh 5 mil dari garis pantai. Nelayan Indonesia tak terbiasa menerjang angin badai di lautan lepas.
Mereka akan berhenti melaut pada saat angin muson utara dan kembali ke laut saat cuaca hangat. Ketika musim menangkap ikan dengan cuaca yang mendukung mereka menangkap ikan sebanyak-banyaknya hingga tak tahu harus di jual kemana saja dan berujung pada tengkulak-tengkulak yang mengumpulkan hasil tangkapan ikan dari nelayan. Bagaimanapun tengkulak tak bisa membeli terlalu tinggi pada nelayan karena mereka harus menjual lagi kepada pembeli di pasar.
Akhirnya, pada saat musim tak bisa melaut. Nelayan yang hanya memiliki mata pencarian tunggal menangkap ikan tak begitu banyak dapat bergantung pada hasil tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Semuanya berujung pada meminjam modal untuk membeli bahan bakar pada sesi menangkap ikan selanjutnya. Inilah yang menjadi penyebab rendahnya kesejahteraan hidup masyarakat nelayan di Indonesia.
Kata kekasihku, yang ahli ilmu masyarakat. Ketika ia menjelaskan padaku kenapa Indonesia negara maritim tapi kehidupan masyarakat yang mencari makan dari hasil laut masih tetap tak berkecukupan.
Mungkin aku juga akan menjelaskan padanya tentang kenapa kita tak seharusnya menjaga laut jika ingin mengambil banyak manfaat darinya. Seperti kasus kapal yang membawa muatan coral  yang kami tangkap dua hari lalu. Benar dugaanku, mereka hanya dikenai sanksi atas pelanggaran hukum perdagangan lintas negara dan tidak membawa dokumen lengkap saat melewati perbatasan Indonesia.
“Maukah kau mengirimi foto pemandangan laut disana, sayangku?”
“Tak terlalu bagus. biasa saja. Airnya dangkal dan sedikit keruh. Nanti kukirimi jika aku sampai di Kendari. Kudengar lautnya sangat bersih kau pasti suka. Seperti di Labuhan Bajo.” Tadinya aku ingin mengirimi pacarku foto-foto pemandangan laut saat yang akan kuselipkan di surat saat kukirimkan padanya. Tapi lautan Ambalat tak begitu bagus. Sementara di Ambalat tidak ada pulau, hanya luas lautan biasa.
Tak ada kulihat nelayan yang berlalu-lalang mencari ikan di sekitar sini selama KRI Pulau Raas tiba. Laut yang menjadi bagian milik Negara Indonesia setelah bersengketa dengan Malaysia. Karena kedalamannya yang tak lebih dari 20 meter. Tapi aku belum pernah melihat langsung bagian wilayah perairan di sekitar Simpadan dan Ligitan, katanya sangat indah.
Wajar saja didirikan dua buah resort besar oleh pengusaha swasta Malaysia yang menyewa kepada negaranya. Kekayaan alam yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh sumber daya manusia berkompeten. Tetapi kekayaan alamnya kembali kepada negaranya, Malaysia adalah contoh negara berkembang yang memperhatikan pentingnya keseimbangan lingkungan..

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg