Kapal bertipe mine sweeper ini sudah menjadi rumah terapungku selama 6 bulan terakhir. Sebelumnya aku ditempatkan di kapal perang berjenis LPD (Landing platform Dock) dengan kode seri kapal 590. Kapal ini sering digunakan oleh Bapak Presiden Susilo bambang Yudhoyono ketika akan melakukan perjalanan lewat laut. KRI 590 memiliki banyak ruang kamar dan sistem permesinan yang lebih rumit juga kompleks. KRI Makassar adalah tipe kapal yang memiliki fungsi sebagai pengangkut armada dan kapal inilah jenis pertama yang di aktifkan sebagai kapal tugas dengan sistem docking yang dapat menyimpan 2 kapal kecil sejenis patroli pendukung di lambung dasar atau tank deck.
Sistem mekanik yang lebih rumit juga ada di tank deck, saat pertama naik kapal itu aku mencoba masuk ke dalamnya. Bertanya-tanya pada operator mesin mengenai tugas-tugas yang mereka lakukan dan bagaimana cara kerja mesin kapal militer yang besar seperti itu. Ada sebuah ruang kendali mesin yang mirip ruang operator pegawai PLN.
Didalamnya terdapat panel-panel yang dikendalikan dengan sistem komputerisasi yang terhubung pada satu layar LCD besar ditengah kumpulan panel-panel tersebut. Ketika Pak Bondan menjelaskan, meskipun tak memahami sepenuhnya karena permesinan bukan jurusanku sewaktu kuliah tapi setidaknya aku mengerti sedikit-sedikit.
Pasokan air dan listrik di didstribusikan ke seluruh bagian Kapal KRI Makassar 590 oleh tenaga solar sebagai bahan bakar. Di belakang meja kontrol ada sebuah peta jalur yang mendeskripsikan kemana saja aliran listrik ditujukan pada setiap bagian kapal.
Sementara didalam ruang kendali itu dingin dan ber-AC diluarnya hanya ada jembatan dari besi yang selebar bokong ibukku dikelilingi oleh mesin-mesin besar yang berderum-derum dengan suara kuat bahkan ketika memekik diruangan itupun tak ada yang bisa mendengar suaramu. Dari semua penjelasan rumit Pak Bondan, yang kutahu jangan coba-coba berbuat sesuatu yang mengganggu jalur pembuangan limbah air di kapal karena itu akan menyusahkan orang bagian permesinan yang harus mematikan seluruh mesin yang sedang bekerja di kapal, begitu pesan mereka padaku.
Setelah hampir setahun hidup nyaman di atas kapal besar itu aku di pindah tugaskan ke kapal lainnya. Masih Kapal Militer atau KRI yang bertugas mengamankan perairan. Tapi kapal selanjutnya ini tidak sama dengan KRI Makassar 590.  KRI Pulau Raas dengan nomor seri 722 memiliki tipe, bentuk, seri dan fungsi yang tidak sama dengan KRI 590.
Berbeda dengan kapal KRI Makassar 590 yang lebih luas berukuran tinggi 56 meter dengan deck berjulah 10 tingkat serta memiliki sebuah heli deck dan dapat mengangkut 2 buah LCVP. KRI Pulau Raas 722, kapalku berukuran jauh lebih kecil dengan luas lebih dari 56 x 7 x 2 meter. KRI Pulau Raas memiliki seri 722 yang artinya kapal yang berfungsi sebagai kapal persenjataan.
Meskipun lebih kecil, tapi tugas si cabe rawit ini juga tidak kalah mulia. Memastikan perairan Indonesia bebas dari ranjau laut yang dapat membahayakan kapal-kapal yang lalu lalang di perairan Indonesia dan mengintai apabila ada pesawat musuh mendekat dan berusaha menyerang. Hanya 30 orang beruntung dari seluruh penduduk Indonesia yang menaiki kapal luar biasa ini. Dan kapal-kapal sejenisnya.
Sayangnya kapal hebat ini bukan buatan baru dari pabrik alias secondhand yang dibeli Negara Indonesia pada tahun 1992 setelah berhenti di operasikan oleh Jerman Timur sejak Tahun 1973. Meskipun lawas, tak bisa dibohongi bahwa kekuatannya masih patut di acungi jempol. Meriam ganda yang berjumlah 3 buah masih dapat dioperasikan dengan baik. Mesin kapal yang menghasilkan 8,260  bhp kekuatan mampu mengarungi samudera hingga sejauh 28 batu nautika. Terkadang benar kata pepatah, mungkin sampah orang lain adalah harta karun bagi yang lainnya. Inilah harta negara yang patut kita jaga dengan sebaik-baiknya.

Negeri-ku, yang seperti nyanyian teduh ibu pertiwi. Tanah airku amatlah subur yang kucinta sepanjang masa. Yang seperti lagu buaian Koes plus, bukan lautan bukan kolam susu kail dan jala ikut menghidupimu tiada ombak tiada badai kau temui ikan dan udang menghampiri dirimu. Bermanja-manja dan terlena dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, tapi bingung bagaimana cara mengolahnya.
Kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengurusi masalah pemberdayaan hasil-hasil kelautan.
Lihatlah negara luar yang bahkan tak memiliki laut seluas Indonesia. Belanda bahkan mengeringkan lautan untuk di jadikan daratan, tapi mereka menguasai hampir 5% hasil tangkapan laut dunia. Kapal-kapal canggih penangkap ikan miliki nelayan Jepang bahkan sampai ke Tanjung Benoa, Bali. Amerika menempuh badai di lautan samudera psifik yang maha luas untuk menangkap ikan dengan sistem penangkapan bersiklus yang disesuaikan dengan angin dan musim tangkapan.
Nelayan Indonesia hanya menggunakan kapal kayu berukuran 4-5 meter dengan mesih motor 4 tak hanya dapat berlayar sejauh 5 mil dari garis pantai. Nelayan Indonesia tak terbiasa menerjang angin badai di lautan lepas.
Mereka akan berhenti melaut pada saat angin muson utara dan kembali ke laut saat cuaca hangat. Ketika musim menangkap ikan dengan cuaca yang mendukung mereka menangkap ikan sebanyak-banyaknya hingga tak tahu harus di jual kemana saja dan berujung pada tengkulak-tengkulak yang mengumpulkan hasil tangkapan ikan dari nelayan. Bagaimanapun tengkulak tak bisa membeli terlalu tinggi pada nelayan karena mereka harus menjual lagi kepada pembeli di pasar.
Akhirnya, pada saat musim tak bisa melaut. Nelayan yang hanya memiliki mata pencarian tunggal menangkap ikan tak begitu banyak dapat bergantung pada hasil tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Semuanya berujung pada meminjam modal untuk membeli bahan bakar pada sesi menangkap ikan selanjutnya. Inilah yang menjadi penyebab rendahnya kesejahteraan hidup masyarakat nelayan di Indonesia.
Kata kekasihku, yang ahli ilmu masyarakat. Ketika ia menjelaskan padaku kenapa Indonesia negara maritim tapi kehidupan masyarakat yang mencari makan dari hasil laut masih tetap tak berkecukupan.
Mungkin aku juga akan menjelaskan padanya tentang kenapa kita tak seharusnya menjaga laut jika ingin mengambil banyak manfaat darinya. Seperti kasus kapal yang membawa muatan coral  yang kami tangkap dua hari lalu. Benar dugaanku, mereka hanya dikenai sanksi atas pelanggaran hukum perdagangan lintas negara dan tidak membawa dokumen lengkap saat melewati perbatasan Indonesia.
“Maukah kau mengirimi foto pemandangan laut disana, sayangku?”
“Tak terlalu bagus. biasa saja. Airnya dangkal dan sedikit keruh. Nanti kukirimi jika aku sampai di Kendari. Kudengar lautnya sangat bersih kau pasti suka. Seperti di Labuhan Bajo.” Tadinya aku ingin mengirimi pacarku foto-foto pemandangan laut saat yang akan kuselipkan di surat saat kukirimkan padanya. Tapi lautan Ambalat tak begitu bagus. Sementara di Ambalat tidak ada pulau, hanya luas lautan biasa.
Tak ada kulihat nelayan yang berlalu-lalang mencari ikan di sekitar sini selama KRI Pulau Raas tiba. Laut yang menjadi bagian milik Negara Indonesia setelah bersengketa dengan Malaysia. Karena kedalamannya yang tak lebih dari 20 meter. Tapi aku belum pernah melihat langsung bagian wilayah perairan di sekitar Simpadan dan Ligitan, katanya sangat indah.
Wajar saja didirikan dua buah resort besar oleh pengusaha swasta Malaysia yang menyewa kepada negaranya. Kekayaan alam yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh sumber daya manusia berkompeten. Tetapi kekayaan alamnya kembali kepada negaranya, Malaysia adalah contoh negara berkembang yang memperhatikan pentingnya keseimbangan lingkungan..

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-3.jpeg

BERLIAN PUDAR
Masih menjaga keamanan wilayah perbatasan di Ambang Batas Laut, Blok Laut perbatasan Indonesia-Malaysia. Mengawasi lalu lintas kapal-kapal yang masuk dan keluar dari perairan Indonesia. Mencari-cari dan waspada kalau-kalau ada kapal asing yang mencurigakan dan melakukan pelanggaran dan bersiap menerjunkan tim pemeriksa untuk mendekati kapal.
Dari ruang kemudi aku memperhatikan dengan sebuah teropong berukuran sedang yang biasa digunakan untuk mengawasi dari jauh gerak-gerik kapal yang sedang berlayar dan keadaan laut sekitar.
Dari jenis pelanggaran yang sering kutemui selama bertugas disini adalah kapal-kapal asing yang memasuki perbatasan Indonesia tetapi tidak membawa surat ijin dan dokumen barang atau kapal yang bermasalah dan tidak lengkap. Dan ada juga kapal nelayan Indonesia yang minim teknologi sehingga tidak bisa mengetahui garis batas wilayah.
Masih mengawasi perairan sekitar, tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Lalu aku melepaskan pandangan dari teropong dan bersandar sejenak di meja kendali. Memutar leher setengah lingkaran sambil mengangkat tangan setengah bahu, meregangkan otot-otot yang pegal karena  berdiri hampir tiga jam mengawasi di ruang kemudi.
Cuaca tering dengan udara panas menyengat dan tambahan tak ada yang dapat kukerjakan selain berdiri disitu, didepan panel kontrol mesin kemudi kapal. Menemani kapten.
Kering sekali terasa tenggorokan kemudian kubasahi dengan air ludah yang masih tersisa di tenggorokan. “Aku ingin kebawah sebentar mengambil minum. Tolong awasi!” pintaku pada seorang junior yang sedari tadi memerhatikan radar di meja kendali kapal. Ia mengangguk dan akupun melangkah menuju tangga untuk keluar menuruni ruang kemudi.
Belum sampai lima anak tangga kudengar ia memanggil namaku kembali, “Lettu Danu, ada kapal mendekati perbatasan.” lapornya. Aku membalikkan badan dan mengurungkan niat mengambil air minum. Ia menunjukkan ada sinyal gelombang radio kapal yang tertangkap radar mendekati wilayah perbatasan.
Lalu memasang frekuensi radio untuk menyambungkan komunikasi dengan kapal tersebut dan menanyakan perihal informasi dan keperluan kapal menyeberang dari wilayah perbatasan NKRI. Lama menunggu sekitar sepuluh menit, tak ada respon balik.
Karena tak menanggapi sinyal radio yang kami kirimkan ku laporkan pada kapten bahwa kapal tersebut layak untuk lakukan inspeksi.
Kemudian diturunkan perintah untuk mendekati kapal dengan menurunkan tim pemeriksa dengan menggunakan sebuah perahu karet. Aku diikutkan kedalam tim yang dipimpin oleh Mayor Laut Taufik Akbar, seniorku. Perahu karet melaju mencari keberadaan sinyal kapal yang tertangkap oleh radar KRI Pulau Raas.
Sebuah Kapal Layar Motor berwarna dominasi merah kecoklatan dari ada garis putih sedang mendekati wilayah perbatasan, berbendera Indonesia. Sedang berlayar mendekati wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tetapi terlihat mencurigakan.
Sepertinya inilah kapal yang tertangkap oleh radar kami dan tak menjawab sinyal radio yang kami kirimkan. Seorang ABK yang sedang mengawasi di luar tertangkap oleh lensa kameraku.
Setelah mengabadikan kapal yang melanggar perbatasan tersebut dari kejauhan. Dokumentasi dalam bentuk foto sangat akurat untuk dijadikan barang bukti jika kapal terbukti benar melanggar batas-batas konstitusional atau melakukan kejahatan lintas negara.
ABK tersebut terlihat panik dan masuk ke ruang kemudi sambil setengah berlari mengetahui kedatangan kapal kami yang mendekati mereka.
Seorang rekan menyalakan toa untuk menyampaikan aba-aba dan menjelaskan maksud kedatangan kami untuk memeriksa kelengkapan dokumen dan surat ijin melintasi negara.
Aku mendampingi Mayor Taufik menaiki tangga tali yang telah dilemparkan ke atas tautan kapal. Lima orang naik kekapal sementara satu orang rekanku tetap di perahu karet mengawasi sekitar dan berjaga-jaga.
“Nitip kameraku ya.” Aku menyerahkan kamera pada kru yang tinggal berjaga di perahu. Taku kalau-kalau terjadi sesuatu didalam dan tak ingin terjadi sesuatu dengan kamera itu.
Kapal ini tak begitu besar dan terlihat kumuh, lantainya banyak terdapat karat kecil dengan cat lantai yang sudah mulai tak nampak lagi warna aslinya karena memudar di bagian sana sini dan beberapa kecoak laut keluar melalui lubang-lubang kecil pembuangan air.
Mungkin karena kurang dirawat oleh awak kapalnya atau memeng mereka tidak terlalu memedulikan asalkan kapal ini dapat beroperqasi. Tapi pasti akan sulit jika melakukan perjalanan melewati laut cina selatan dengan kapal seperti ini.
Tak ada begitu banyak ABK didalamnya, hanya beberapa orang awak yang berhenti memasang tali temali pada muatan kapal yang sedang ditutupi terpal berwarna biru laut ketika kami naik ke kapal dan memberitahukan maksud kedatangan kami.
“Mohon perlihatkan dokumen-dokumen kapalnya.” Mayor Taufik menginterogasi kapten kapal yang sedang dijaga ketat olehku dan seorang rekan di ruang kemudi.
Rekan-rekan yang lainnya bertugas berkeliling kapal untuk memeriksa muatan kapal dan awak-awak yang terlihat mencurigakan untuk kemudian melaporkan kembali padaku.
“Ada pak, sebentar .” Ia melepas kemudi dan berjalan ke arah belakang. Perawakannya yang bulat dengan kulit gelap khas lelaki Indonesia itu berjalan  ke tempat sebuah lemari besi di bawah meja kayu yang tertumpuk beberapa bekas bungkus makanan dan sebuah asbak rokok.
Kapten kapal itu terlihat gugup saat mengambil berkas-berkas yang ada di dalam lemari besi yang juga terletak di ruang kemudi itu. Dengan sekelibat mata hampir saja kami lengah saat ia mengambil tumpukan kertas-kertas didalam brankas itu dibawahnya juga tersimpan sebuah pistol kecil.
Aku yang memang berdiri di pintu dari tadi dengan sigap berlari dan menerjang kearahnya, ia mengerang kesakitan saat kulumpuhkan sebelum berhasil mengarahkan pistol itu kepada mayor. Pistolnya terjatuh jauh dari jangkauan sementara ia kutimpa dengan badanku dalam posisi terlungkup.
“Aduh, ampun! Lepaskan saya!”, ia mengerang memohon untuk melepas pitinganku pada lengannya yang kuarahkan kebelakang punggung dan tetap menimpanya dengan badanku.
Seorang rekan yang berjaga tadi sedikit terkejut, begitu juga dengan Mayor Taufik, Tak ada yang mengira jika si kapten akan melakukan tindakan perlawanan dengan berniat mengacungkan pistol kepada mayor dari balik meja tempat brankas itu.
Sudah kuduga akan terjadi sesuatu, beruntung saja posisiku yang dapat melihat langsung apa ke arahnya meja itu karena posisinya menyamping smeentara Mayor terhalang oleh tutupan pembatas dibawah meja.
Walaupun tidak ada perlawanan setelah itu tapi sedikit saja lengah mungkin akan timbul korban yang tak diinginkan
Wajah Mayor Taufik murka, meskipun terkejut dengan pelawanan yang tak terduga tadi tapi ia kesal karena sikap orang tersebut. Si kapten kapal sudah kami bawa ke KRI Pulau Raas untuk di interogasi lebih lanjut.
“Tidak malukah? Menjual kekayaan alam negara ini keluar negeri hanya semata-mata untuk mengenyangkan perutmu?”
“Anak-istri saya perlu makan. Darimana saya dapat uang kalau tidak bekerja?” Kapten kapal itu melawan Mayor dengan muka yang tidak bersahabat. “Saya hanya disuruh membawa. Tanyakan pada yang mengambil,” Ia tampak acuh dan memalingkan muka. Logatnya kental seperti bahasa orang sulawesi dengan aksen suku-suku peranakan sulawesi yang tinggal di wilayah pesisir. Tak ada sedikitpun raut penyesalan diwajahnya.
Kapal itu memuat berton-ton coral atau sejenis tumbuhan karang. Sepertinya akan dibawa menyeberang ke negara Taiwan untuk di perdagangkan secara ilegal dengan tengkulak disana.
Semua tahu bahwa alam bawah laut Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, terumbu-terumbu karang sering di ekspor keluar negeri sebagai komoditi yang paling diinginkan oleh negara-negara maju.
Mulai dari bahan pembuat obat-obatan, makanan hingga kosmetik. Beberapa orang serakah mengeksploitasi kekayaan laut dengan mengeruk untung sebanyak-banyaknya demi kepuasaan pribadi tanpa memedulikan keseimbangan alam yang mulai terkikis oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab ini.
“Siapa yang menyuruh?” Mayor Taufik setengah membentak, aku keluar dari ruang pengawas. Tak begitu ingin memperhatikan, miris melihat kenyataan yang sedang terjadi didepanku.
Melanggar peraturan negara dalam perdagangan antar bangsa bukanlah hal asing bagi sebagian kecil orang-orang. Terlebih membawa barang-barang yang berniat untuk diselundupkan.
Tadinya mungkin ia hanya akan dikenai sanksi karena membawa barang-barang tanpa surat perjalanan lengkap melintasi batas negara. Soal terumbu karang yang dibawanya aku tidak yakin itu akan dikenakan pasal. Tapi dengan ketidak lengkapan surat itu sudah cukup untuk menjebloskan para kru kapal ke penjara. Dengan tambahan ia melakukan perlawanan, tak ada kata lolos.
Angin malam bertiup kencang, horison langit tak menunjukkan adanya bintang-gemintang yang biasa menghiasi langit malam. Sepertinya akan terjadi badai kecil besok. Kapal sudah berlayar meninggalkan lokasi penjagaan tadi siang, sekarang sedang menuju Lanal Balikpapan untuk menyerahkan para awak kapal yang telah tertangkap di jalur perbatasan laut utara Sulawesi tadi siang. Akan dilakukan pemeriksaan lanjut.

C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg

Previous PostOlder Posts Home