Ia tidak pernah bertanya tentang kabarku dalam setiap pesan  sandi yang ia kirimkan. Hanya: “Sudah berapa batang rokok kau hisap hari ini?”. Entah, setiap ia bertanya aku tak pernah mampu menjawab, karena dengan seperti itu aku merasa sangat dekat dengannya.
Serasa ia sedang berada tepat didepanku dengan raut muka yang penuh kekesalan lalu ketika kunaikkan muka aku meringis dan kusadari ia tak ada disitu, dihadapanku…
Gadisku yang cantik dan lembut sekali ketika berbicara ini dapat berubah menjadi serupa malaikat penjaga pintu neraka yang bersiap menceburkanmu kedalam kawah  panas mendidih ketika melihat, menghirup dan mengendus asap tembakau yang dibakar.
Dia bilang tidak tahan asap yang sungguh menyesakkan paru-parunya. Dan ia akan memarahi setiap orang yang mendekatinya sambil membakar rokok apalagi mengebul-ngebulkan asap rokok dihadapannya. Bagiku ia lebih mirip seorang dokter yang takut mati. Ia menyuruh perokok untuk berhenti membakar tembakau gulung dan mulai menjalani hidup sehat tapi tak siap untuk menyentuh pasien yang kronis. Jangankan menyentuh, mendekatpun enggan.
Lucu sekali ketika kuingat, suatu ketika kami duduk berdua dan aku lupa menyalakan rokok dihadapannya. Sekonyong-konyong ia merebut benda jahanan itu dan  membuangnya ke tanah tanpa sungkem lalu menginjak-injak dan menggilasnya sampai batang tembakau gulung itu sampai runyem tak berbentuk.
“Lihat rokoknya! Kau menindasnya tanpa belas kasihan, lihat ia meronta-ronta…tolong selamatkan aku.” kataku menirukan seolah-olah batang rokok itu dapat berbicara. Tapi mukanya amat datar, tanpa ekspresi. Tanpa rasa bersalah.
Lalu semenjak itu, ia melakukan hipoterapi padaku. Ya hipoterapi, karena ini jenis terapi aliran ekstrimis yang mengharuskanmu, perokok untuk hanya menghisap tiga batang rokok setiap hari. Jatah pagi dari jam 12 malam sampai jam 12 siang, jatah siang sam,pai jam 6 sore dan jatah malam sampai jam 12 malam.
Sumpah, kesal setengah mati aku kawan! 2 jam untuk bertahan dalam hidup tanpa menghisap tembakau gulung itu rasanya mulutku pahit sekali, jantung berdebar-debar dan sesak napas.
Benar memang orang bilang merokok itu merupakan suatu kecanduan. Tetapi aku sangat menikmatinya, seperti makan sepiring gudeg dan minum es teh dingin di tengah hari yang terik.
Lalu, dimana letak kesalahan orang yang menghisap rokok? Kadang kuperdebatkan itu dengan diriku sendiri. Apa aku mengganggu ketentraman dan menyebabkan polusi udara seperti bagaimana asap yang dihasilkan kendaraan-kendaraan bermotor dalam menyumbang sebagian besar polusi udara di tengah kemacetan jalan di kota-kota? Tidak, ayolah kawan!
Seberapa kecil asap yang dihasilkan oleh sebatang rokok? Bahkan tidak mampu membunuh seekor nyamuk. Dan apakah aku menyebabkan Negara Indonesia merugi miliaran rupiah pertahun karena angka kesehatan penduduk Indonesia yang terus menurun dari tahun ketahun akibat penyakit-penyakit kronis yang merenggut nyawa jutaan penduduk Indonesia pertahunnya? Yang benar saja!
Bukan hanya merokok saja yang menjadi penyebab banyak penyakit kronis yang diderita oleh sebagian besar perokok. Tetapi memang karena gaya hidup mereka yang tidak sehat.
Mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi tanpa diimbangi asupan vitamin dan protein dan olahraga yang cukup. Lihat aku! aku baik-baik saja sejak dari umur 16 tahun mulai merokok. Itu karena aku aktif dan melakukan banyak kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuhku dengan teratur.
Bahkan negara ini seharusnya berterima kasih kepada pabrik-pabrik rokok yang mengayomi kehidupan warga-warga desa kelas menengah kebawah, hidup dan menghidupi keluarga dari melinting kertas-kertas dengan tembakau kering dan cengkeh, mengarit di pagi-pagi buta untuk mengambil tembakau siap panen yang akan dipotong dan dijemur untuk dijadikan bahan isian rokok.
Orang-orang desa ini berusia baya dan pertengahan. Sudah bukan umur produktif lagi. Bayangkan kalau banyak pabrik rokok di Indonesia tutup karena kami perokok aktif memilih untuk meninggalkan rokok.
Dan jika orang-orang berpikir seorang perokok yang berada di suatu wilayah publik mengganggu dengan asap rokoknya, kau bisa menghindar kawan. Bukankah itu wilayah publik? Semua orang berhak atas akses tempat itu selama mereka masih berada disitu.
Terkecualilah jika memang sudah dipasang tanda peringatan yang ada gambarnya rokok lalu dilingkari dan diberi tanda strips merah itu, baru artinya kau tidak  boleh bakar-bakar disitu. Ah kadang-kadang aku juga pura-pura tidak lihat, maaf!
Tentu tidak akan kusampaikan hasil perdebatan dengan jiwaku itu pada kekasihku. Sungguh aku takut kalau-kalau ia memberondongku dengan ribuan fakta-fakta untuk tetap mempertahankan argumennya.
“Oh ya, jadi kau sama sekali tak merasa berdosa meracuni tubuhmu pelan-pelan dengan nikotin-nikotin itu? Kau tau bung, lebih baik kau makan pecahan beling karena percaya atau tidak, didalam rokok yang kau bakar itu ada silika. Kau tau apa itu silika? Bahan untuk membuat kaca!” Ia membentakku, lebih kejam dari senat-senat yang sedang menggembleng tamtama baru.
Mengguruiku seakan-akan aku ini anak SD yang harus berhenti bolos sekolah kalau tidak mau tinggal kelas.”Dan jika kau berpikir sedang menyelamatkan hidup ribuan pekerja di gudang-gudang rokok yang ada di pulau jawa sana. Tidak lebih hanya menciptakan bom waktu yang ditanam dalam setiap pemuda-pemuda yang menghisap rokok-rokok itu, pemuda sepertimu. Menciptakan kebodohan lintas jaman yang tak akan pernah bisa berubah karena sudah mengurat tanah.”
Bagaimanapun keadaannya bahkan jika seluruh penduduk Amerika suatu hari nanti berbahasa Jawa semua, ia akan tetap mengharamkan merokok selama hayat masih dikandung badan.
Suatu hari ia menyerah dengan membekukan undang-undang hipoterapi yang diterapkannya, wajahnya tanpa layu sambil dengan lemas berkata padaku “Berjanjilah kau tidak akan merokok lagi.”
Raut mukanya begitu meminta dikasihani. Iba aku melihatnya, seperti terhipnotis oleh mata cokelat muda yang menatap pasrah, “Ya, aku janji.” begitu saja kata-kata itu meluncur keluar dari bibirku.
Mulanya ia tetap seperti itu, memandang dengan tatapan penuh keibaan lalu senyum licik mengembang di bibir tipisnya yang mungil. “Janji pelaut akan dipegang sampai mati. Ingatlah itu kawan!” Ia berdiri dan mengelus-elus pipiku.
Ah, aku terjebak. Terjebak tatapan yang mengunci itu. Seharusnya tak kukatakan aku berjanji. Katakan saja aku akan berhenti. Tapi tidak tahu kapan.
Sekarang aku sudah berjanji dan itu artinya aku harus sudah berhenti merokok sejak saat janji itu sudah diucapkan. Seharusnya ia jadi manipulator bukan pengajar anak-anak kecil. Mungkin anak-anak itu juga sudah diajarinya untuk jadi pembujuk ulung. Oh kekasihku yang sangat meneduhkan, kenapa engkau juga mengesalkan?
Lewat jam lapor malam, semua perwira baik junior maupun senior lebih memilih mengistirahatkan jiwa dan raga dengan kembali ke kamar masing-masing untuk merebahkan diri dan tidur dengan nyenyak.
Hanya beberapa yang memilih untuk tinggal dan mengobrol dengan rekan kerja yang lain. Ada yang duduk main domino di anjungan terbuka sambil minum kopi, ada juga yang sedang ngobrol-ngobrol bebas di pantry.
Aku lebih memilih masuk kekamar tercinta dan bertemu kasur kesayangan untuk saling bercumbu malam ini. Karena badan agak terasa capek setelah setengah hari tadi berlayar mengejar sebuah kapal asing dari Filipina yang melanggar masuk ke wilayah perbatasan perairan Indonesia.
Kowe yang disuruh ngejar kapal nelayan tadi ya Dan?” Agus  muncul sekonyong-konyong dari atas dipan kasurku.
Aku baru merebahkan badan dan berusaha menutup mata dengan punggung lengan kemudian hanya berdehem dan menjawab singkat. “Itu, sama Hamid.”
Agus melihat ke arah tempat tidur Hamid yang berseberangan dengan tempat tidurnya. Anak itu sudah tertidur pulas. Lalu ia kembali padaku, kali ini aku pura-pura sudah tertidur lelap dengan mulut sedikit menganga.
Baru ingin keluar kata-kata dari mulutnya ia berhenti. Dan sosoknya menghilang, mungkin menyerah dan kembali tidur.
“Ribet ya jaga laut yang ga ketahuan batas-batasnya. Ga bisa dilihat pake mata telanjang. Ya kalo aku yang jadi nelayan mungkin bakalan nyesat juga kalo ga tau.” Suaranya muncul kembali, ternyata ia masih terbangun. Sebenanya aku sedang malas untuk diajaknya ngobrol. Tapi ia terlihat sedang berbicara dengan dirinya sendiri, meskipun suaranya terdengar nyaring seluruh kamar dan menunjukkan seolah-olah siapa saja tolong komentar.
“Ya wes besok lautnya di pageri biar kethok.” sambutku. Ia menilik ke tingkap bawah. Aku tersenyum sambil sedikit membuka mata mengintip ekspresinya.
“Ngawur kamu mas. Emangnya kebun melon bapakmu!” sautnya. Lalu kamar sunyi seketika dan semua orang bersiap berlayar ke alam mimpi.
C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg
“Ya buk, iya…iya” Aku manggut-manggut. Suara ibuk di seberang telepon sedang memberi wejangan, dibelakangnya ada terdengar suara ayam berkokok dan bapak yang sedang memukul-mukul kapuk kasur dengan rotan.
“Serunding sapi ne wes habis belum?”
“Udah dari minggu kemaren buk.” Aku mengintip kedalam stoples ukuran sedang dari plastik berwarna bening diatas meja. Didalamnya hanya tinggal sebuah sendok dengan sisa remah-remah serunding yang masih menempel.
“Ibuk!” Hamid memanggil ibukku dari seberang sambil membereskan tempat tidurnya kemudian rebah. Aku menoleh dan tersenyum, suaranya kedengaran sampai ke ibu. Ibu hanya tertawa dan hapal kalau itu suara Hamid.
Serundingnya habis! Silahkan dikirim lagi, buk.” tambahnya sambil terbahak-bahak, Agus dan yang lainnya dikamar mengikuti. Mereka mulai berisik dan saling menuduh siapa yang paling banyak menghabiskan serundingku. “Aku tak banyak makan bang, itu Bang Agus congok kali dia.” elaknya pada semua orang dikamar.
Ibuk yang menguping dari seberang telepon kemudian berkomentar, “Yang paling banyak ngabisin katanya nanti ga dikasih jatah dikiriman selanjutnya” Aku menyampaikan pesan ibuk pada mereka yang masih merundingkan siapa yang paling banyak memakan abon sapi buatan ibuk.
“Yah! Jangan donk buk, nanti saya ga selera makan kalo ga ada serunding buatan ibuk tercinta! Masa Ibuk ndak kasihan kalo saya jadi kurus gara-gara kurang makan?” Agus cepat-cepat menyahut, ia berbicara dengan suara kuat mendekati telingaku yang masih menempel pada telepon genggam dan mendengarkan ibuk sedang berbicara.
Aku tertawa terbahak-bahak sambil menjauhkan mukanya dari telingaku. “Hahahaha….”
Seisi ruangan terasa hidup seketika. Keributan tentang jatah serunding ibuk dan telepon wejangan yang selalu kami rindukan. Karena diantara orang tua delapan perwira penghuni kamar ini hanya aku yang selalu rutin mendapat panggilan dari otang tua di kampung halaman.
Sampai mereka hapal dan setiap menanyakan kabarku ibuk juga akan menanyakan kabar anak-anak yang lain. Entah ini ejekan atau mereka memang kagum dengan kepatuhan dan rasa sayangku pada orang tua tapi semuanya begitu gembira saat ibukku menelepon dan ikut-ikutan mengirimkan salam.
Sampai ibuk hapal dengan nama semua penghuni kamar D-03 ini. Padahal baru lima bulan aku bergabung dikamar ini, rasanya seperti sudah mengenal mereka bertahun-tahun, dekat seperti saudara.
“Melonnya bapak sudah mau dipetik. Tahun ini sepertinya lebih banyak.” Suara ibuk menyampaikan kabar tentang kebun melon bapak yang akan dipanen sebentar lagi.
“Alhamdulillah.” sautku ikut berbahagia.
“Kamu kapan pulang le?”
“Dua bulan lagi insyallah buk.” janjiku.
“Kamu kapan naik pangkat le?”
“Bulan Sepuluh, buk.”
“Kamu kapan calon istri kerumah le?”
“Ibuuukkk…” jawabku protes, malu jika ibuk menanyakan itu.
Lha kenapa? Mas Rudi sepupumu sing ndhek Malang arep nihakan lho bulan depan.” Ia mulai bercerita panjang lebar tentang berita bahagia sepupuku yang tinggal di Malang.
Ibuk tidak akan bercerita tentang keadaan dirumah, ibukku yang begitu menyayangiku melebihi bapakku. Wanita lembut favoritku nomor satu yang selalu menceritakan tentang hal-hal menyenangkan di bagian lain dunia yang tak dapat kulihat, bahkan meskipun disana sedang terjadi hal  buruk ibuk takkan menceritakannya untuk membuatku khawatir. Ia mirip dengan kekasihku. Wanita favoritku nomor dua.
“Jangan lupa shalat ya le!”
“Ya buk.”
C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg
Suara burung camar laut memekik diatas ubun-ubun, aku menatap langit siang yang panas, cerah dan bergelora. Hanya lautan luas sepanjang mata memandang, sebuah kapal terayun-ayun ombak. Burung-burung itu singgah beberapa di anjungan atas kapal. Dibelakang ruang kemudi.
Meskipun panas cukup terik untuk berada dibawah sinar matahari langsung rasanya sedikit menyegarkan untuk keluar ke anjungan dan menikmati udara segar sambil duduk berteduh di bawah tangga menuju tiang radar pemancar. Sebenarnya tidak aman terpapar dengan sinyal kapal lama-lama, anu, akan mengganggu kesuburan organ reproduksi, katanya.
Burung-burung tadi berjalan-jalan diatas lantai kapal yang panas. Aku saja yang memakai sepatu beralas tebal berjingkat-jingkat sedikit, bagaimana mereka dapat leluasa kesana kemari berjalan-berjalan sungguh membingungkan.
“Bang, apa kau buat kat sini?” Baru duduk sebentar, Hamid datang menyergah menepuk pundakku pelan. Menghanyutkan kesunyian sesaat.
“Ga ada. Mumpung lowong waktu.” kataku.
Jangan banyak merenung bang, nanti tesampok baru padan muka!” Katanya sambil ikut duduk disampingku, lucu jika melihat kami berdua sedang bercakap-cakap. Hamid dan aku berasal dari dua kebudayaan yang berbeda, etnik tepatnya. Caranya berbicara dan kosakata yang ia gunakan sangat melayu.
Cara ia mengucapkan setiap kosakata terdengar lemak dengan tambahan lah dan kah dibelakang. Sementara aku, sangat medhok dengan aksen seperti tukang jual ketoprak. Tapi kami dapat memahami satu sama lain.
Hamid adalah juniorku, pangkatnya masih letda. Dia ditempatkan di bagian dapur, yang bertugas menyiapkan segala keperluan urusan lambung tengah semua prajurit-prajurit yang ada disini. Hamid dan aku juga bersama-sama saat dipindahkan kapal. Sudah hampir dua kali kami berganti rumah. Sekarang ia ngintil denganku lagi.
“Gimana kabar orangtuamu. Sudah telepon?” tanyaku padanya yang sedari tadi tanpa kusadari juga ikut mengamati burung-burung camar yang sedang berjalan-jalan di atas lantai besi panas didepan kami.
“Mid, Hamid?” tanyaku sekali lagi.
“Oh ye bang. Maaf kami tak dengar hahaha…apa tadi?” ia nampak terkejut dan menanyakan ulang apa yang telah kukakatan padanya.
“Orang tuamu. Gimana kabarnya? Bintan kan ya?” tanyaku kembali.
“Oh iya! Alhamdulillah baik bang. Abang nak aku kirim salam kat mereka kah?”
“Iya boleh.”
“Habis tu, macam mana kabar kakak cantik tu, sihat?” ia menggodaku, melirik sebentar kemudian tersenyum-senyum. Dasar Hamid, paling tahu saja pertanyaan yang selalu membuat hatiku bergejolak. Meskipun ia juniorku tapi kami sudah seperti adik dan kakak, terlihat akrab saat berbicara dan mengobrol tentang keadaan satu dan yang lainnya.
Terkadang ia bercerita tentang kabar keluarganya padaku, tentang bapaknya yang mulai sakit-sakitan dan ibuknya yang sendirian di rumah karena semua abang dan kakaknya telah menikah dan tak menetap dirumah yang sama dengan orang tuanya.
“Ha bang, macam mana?” tanyanya lagi menggodaku, kali ini ia menyikut perutku.
Aku menyerah, “Ya dia baik-baik saja.”
“Nanti kita kunjungi dia sama-sama ya bang. Aku nak tengok juga macam manalah lawa muka permaisuri Abang Danu aku ini. Hahaha…” katanya sambil tertawa, kemudian berselonjor dan membiarkan setengah kakinya terjemur matahari.
“Tak pernah terbayang aku bang waktu kecil jadi pelaut. Rumah aku depan pantai. Balek sekolah maen kat pantai, nak sekolah mandi kat laut. Dah besar menjaga laut pulak.”
“Hahaha…kalau begitu kamu memang manusia laut, mid” kini gantian aku yang mengejeknya. Ia bersungut-sungut.
“Menjadi prajurit negara adalah suatu anugerah karena tak semua warga negara Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjadi aparat penegak kesatuan negara. Kau, jagalah baik-baik kepercayaan negara itu. Jadilah manusia yang kuat dan berjiwa patriot.”
Hamid memandangku, memahami setiap kata yang kuucapkan. Nampak sedang mencerna kata-kataku. Hamid sangat mudah berbaur dengan tugas-tugas perwira dan tak segan-segan bertanya jika ia tidak tahu. Bahkan sering dimarahi karena banyak bertanya. Tapi baginya lebih baik mencari tahun apa yang sedang ia kerjakan daripada buta dengan keadaan.
Ia adalah anak lelaki dari kepulauan, pemuda melayu yang cerdas dan pantang menyerah. Itulah sebabnya aku menyukai kepribadiannya. Kadang kami berdiskusi tentang isu-isu politik yang sedang hangat diperbincangkan, kadang tentang keinginan-keinginan keluarga yang jauh menyimpang dari cita-cita anaknya dan kadang tentang sifat-sifat tak terduga seorang perempuan. Hamid akan bilang ia pusing kalau mendadak membicarakan tentang yang terakhir.
Burung-burung camar laut tadi mulai berjalan berjingkat sambil kadang terbang lalu turun lagi ke lantai. Terlihat kawanannya terbang di atas kapal dan seekor burung yang terbang mondar-mandir mengelilingi kapal dan seekor diantaranya memekik kepada kawanan yang sedang terbang seolah ia adalah pemimpin pasukan terbang itu.

Ketiga burung yang dibawah pun ikut memperhatikan sejenak lalu terbang mengudara, mengepakkan sayap-sayap mereka yang sedikit limbung diterpa angin laut yang agak kuat siang ini. Kawanan burung-burung camar itupun terbang menjauhi kapal, mungkin menemukan laut yang dipenuhi ikan untuk ditangkapi.
C:\Documents and Settings\Netti Seah\My Documents\My Pictures\images-2.jpeg
Previous PostOlder Posts Home